Seedbacklink

Liburan Keluarga yang Hampir Tak Senyaman Rencana Gara-gara Mata SePeLe

Ada satu hal yang selalu saya yakini setiap kali merencanakan liburan keluarga, bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dari destinasi yang jauh, tetapi dari kesempatan untuk benar-benar hadir bersama orang-orang tercinta. Itulah sebabnya saya begitu bersemangat ketika akhirnya kami bisa meluangkan waktu di momen liburan akhir tahun untuk berkunjung ke rumah sepupu suami di Way Tenong, Lampung Barat. Awalnya saya agak cemas menanti kabar suami yang sedang mengajukan cuti akhir tahun setelah hampir dua bulan disibukkan dengan berbagai laporan, akhirnya kabar bahagia itu datang, cuti suami di setujui, dan kami bisa menikmati liburan akhir tahun di Lampung selama satu minggu.

mata kering jangan disepelein

Sebenarnya sih kami sudah sering mudik atau pulang kampung ke Lampung, selain Lampung adalah tanah kelahiran saya dan sebagian besar keluarga tinggal di sini, beberapa saudara kandung suami dan sepupunya juga banyak tinggal di Lampung, jadi bisa dibilang Lampung adalah kampung halaman kami bersama. Meskipun sering pulang ke Lampung, tapi sebagian besar aktivitas liburan kami hanya di seputaran Kota Bandar Lampung, karena terbatasnya durasi liburan. Kali ini, setelah cuti disetujui suami berencana mengunjungi sepupunya setelah hampir sepuluh tahun tidak bertemu, dan lebih sering berkomunikasi lewat lewat video call maupun grup WhatsApp. Dari rencana liburan selama tujuh hari di Lampung, kami menghabiskan tiga hari dua malam di Lampung Barat.

Beberapa hari sebelum keberangkatan, saya mulai menyusun daftar barang yang harus dibawa, apalagi liburan kali ini kami akan mengunjungi Way Tenong yang sebagian besar wilayahnya berada di pegunungan dan berbukit-bukit. Selain pakaian ganti, perlengkapan mandi, camilan, pengisi daya ponsel, yang tidak kalah penting harus dibawa adalah jaket tebal, kaos kaki, serta obat-obatan. Meskipun kondisi anak-anak sehat, tapi anak sulung saya cenderung agak alergi udara dingin sehingga saya harus ekstra waspada. Alasan inilah yang membuat saya tidak pernah lupa membawa perlengkapan kesehatan dalam satu travel pouch khusus. Isinya sih sederhana, mulai dari obat-obatan dasar, plester luka, antiseptik, hingga obat tetes mata Insto Dry Eyes untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu mata terasa tidak nyaman selama perjalanan.

Dari Tangerang Menuju Lampung Barat, Perjalanan yang Lama Dinantikan

Hari yang kami tunggu akhirnya tiba. Setelah semua barang tersusun rapi di dalam mobil, kami pun memulai perjalanan dari Tangerang menuju Lampung Barat dengan penuh antusias. Maklum, ini adalah perjalanan yang sudah lama suami nantikan. Sebelum berangkat, anak-anak sudah saya dan suami briefing, kalau perjalanan ini membutuhkan waktu lebih lama dibanding rute liburan yang selama ini kerap dilakukan, yaitu ke Kota Bandar Lampung. Syukurlah anak-anak bisa mengerti, mungkin karena usianya sudah mulai remaja.

Seperti biasa, setelah menempuh kurang lebih satu jam setengah dari rumah, akhirnya kami sampai di Pelabuhan Merak, bersiap menyeberang ke Pelabuhan Bakauheni, Lampung menggunakan kapal jenis RoRo. Kurang lebih satu jam, karena menggunakan kapal eksekutif, akhirnya kami tiba di Pelabuhan Bakauheni dan kali ini langsung menuju Lampung Barat melalui jalan tol trans Sumatera. Untuk menuju Lampung Barat, suami memutuskan memilih rute dari Kotabumi atau lintas tengah Sumatera. Setelah keluar dari pintu tol Terbanggi Besar, Lampung Tengah, akhirnya perjalanan dilanjutkan menggunakan jalan lintas provinsi menuju Kotabumi, Lampung Utara.

liburan keluarga ke Lampung Barat

Singgah sebentar di Kotabumi untuk makan dan sholat, akhirnya perjalanan kami lanjutkan menuju Bukit Kemuning. Sepanjang perjalanan, apalagi setelah memasuki Kecamatan Sumber Jaya, jalan yang dilalui mulai berkelok-kelok, tidak jarang bersisian dengan jurang. Terus terang, selain memiliki riwayat phobia air karena pernah hampir tenggelam di kolam renang, saya juga phobia terhadap ketinggian. Perjalanan yang mulai menanjak dan berkelok-kelok, membuat adrenalin saya sedikit terpacu. "Yakin kan pa, mobilnya bisa nanjak," berkali-kali saya mencoba menyakinkan diri dengan bertanya pada suami. Bisa ditebak, suami langsung tertawa dan menyakinkan saya kalau perjalanan ini mudah-mudahan aman.

Semakin jauh meninggalkan hiruk pikuk Tangerang, suasana di luar jendela pun perlahan berubah. Udara terasa lebih segar, hamparan pepohonan semakin banyak, dan ketika memasuki Kecamatan Sumber Jaya, Lampung Barat, hawa sejuk khas pegunungan mulai menyambut kami. Rasanya berbeda, lebih tenang dan lebih damai. Saya bahkan sempat berpikir, perjalanan yang cukup panjang ini benar-benar sepadan dengan pemandangan yang kini kami nikmati.

Tugu Muli Batin Rest Area Puncak Sumber Jaya

Saat melintas di puncak tertinggi Kecamatan Sumber Jaya, ada spot menarik yang rasanya sayang jika kami lewatkan, yaitu kawasan Rest Area Puncak Sumber Jaya yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Barat. Selain lokasinya yang berada di ketinggian dengan pemandangan alam yang super indah, dari Tugu Muli Batin yang berada dipuncaknya, pengunjung bisa melihat langsung deretan Bukit Barisan yang membentang disepanjang Pulau Sumatera. Tapi untuk mencapai puncaknya harus melalui puluhan anak tangga yang lumayan bikin napas saya ngos-ngosan...hahaha. Anak-anak sih senang karena dari ketinggian bisa melihat jalan yang berkelok-kelok, hijaunya hutan, dan tepat diseberangnya terdapat masjid Jami' Aminatul Jannah dengan desain yang sangat indah.

Sambil menunggu suami dan anak-anak yang sholat di masjid seberang rest area, saya mulai memijit-mijit kelopak mata yang sejak turun dari Pelabuhan Bakauheni mulai terasa tidak nyaman. Belum sempat membongkar kotak obat, suami meminta saya segera bergegas karena hari mulai beranjak sore, dan kabut tipis mulai turun, maklum kami berada di puncak daerah pegunungan. Perjalanan pun kami lanjutkan. Hanya membutuhkan waktu kurang dari tiga puluh menit kami sampai di Way Tenong, tepatnya di Fajar Bulan, desa dimana beberapa sepupu suami tinggal. Akhirnya sampai juga!

Setibanya di Fajar Bulan, sambutan hangat keluarga besar membuat rasa lelah karena perjalanan seolah menguap begitu saja. Anak-anak langsung akrab bermain bersama sepupu-sepupu mereka, sementara kami menikmati obrolan yang sudah lama tertunda. Selama tiga hari dua malam di sana, kami berencana menikmati suasana pedesaan, mencicipi kopi khas Lampung Barat, berjalan santai menikmati udara pagi, dan tentu saja mengabadikan banyak momen bersama keluarga.

Ternyata, ada satu hal yang luput dari perhatian saya.

Di tengah perjalanan menuju Lampung Barat, saat kami masih berada di dalam mobil, mata saya mulai terasa tidak nyaman. Awalnya hanya seperti kurang segar setelah cukup lama menatap jalan dan sesekali melihat layar ponsel untuk membantu navigasi atau mengabadikan beberapa pemandangan. Saya mengira kondisi itu hanyalah rasa lelah biasa akibat perjalanan panjang.

mata SEpet, PErih, LElah

Beberapa waktu kemudian, rasa tidak nyaman itu semakin jelas. Mata mulai terasa sepet, lalu perlahan muncul sensasi perih. Tak lama setelahnya, mata terasa cepat lelah, bahkan membuat saya beberapa kali memejamkan mata lebih lama daripada biasanya. Saya sempat berpikir bahwa istirahat sejenak nanti pasti cukup untuk mengatasinya. Apalagi waktu liburan kali ini masih panjang, rencananya besok kami akan mengunjungi sepupu suami yang lain di Fajar Bulan.

Sambil menahan mata yang terasa kurang nyaman, saya sempatkan membuka situs kesehatan favorit saya untuk mencari informasi seputar keluhan mata yang saya alami. Akhirnya, saya memahami bahwa tiga gejala yang saya alami, yaitu Mata SEpet, PErih, LElah, yang sering disebut sebagai mata SePeLe dapat menjadi petunjuk Gejala Mata Kering. Saat itu saya belum terlalu menyadarinya. Saya hanya merasa ada yang berbeda dengan mata saya, dan berharap rasa tidak nyaman itu segera hilang agar tidak mengganggu momen liburan keluarga yang sudah lama kami nantikan. Sayangnya, saya terlalu meremehkan tanda-tanda tersebut.

Saat Mata SePeLe Mengganggu Momen Berharga

Meskipun saya mulai menyadari ada yang tidak beres pada mata saat kami istirahat sejenak di Rest Area Sumber Jaya, saya masih berharap rasa tidak nyaman ini akan hilang dengan sendirinya setelah beristirahat. Apalagi udara di sini begitu sejuk dan menenangkan, bahkan saat siang hari sementara malamnya memang terasa lebih dingin karena berada di daerah pegunungan. Saya membayangkan aktivitas esok hari pasti terasa menyenangkan, karena masih ada beberapa saudara suami yang akan kami kunjungi. Sayangnya, harapan itu tidak sepenuhnya menjadi kenyataan.

Keesokan paginya, kami mengawali hari dengan menikmati udara segar di sekitar rumah. Kabut tipis masih menyelimuti perbukitan, sementara anak-anak sudah berlarian di halaman bersama sepupu-sepupu mereka. Pemandangan yang selama ini hanya saya lihat di foto kini benar-benar ada di depan mata. Rasanya sayang jika tidak diabadikan.

Saya pun beberapa kali mengeluarkan ponsel untuk mengambil foto dan video. Namun, tidak lama kemudian mata saya kembali terasa sepet. Setiap kali berkedip, muncul sensasi perih yang cukup mengganggu. Ditambah aktivitas sejak perjalanan sehari sebelumnya, mata saya juga terasa cepat lelah meskipun tubuh sebenarnya sudah cukup beristirahat.

Awalnya saya masih berusaha mengabaikannya. Saya tidak ingin gangguan kecil itu merusak suasana liburan yang sudah kami tunggu cukup lama. Akan tetapi, semakin siang rasa tidak nyaman itu semakin terasa. Saya menjadi lebih sering mengusap mata dan beberapa kali memilih memejamkan mata sejenak sebelum kembali beraktivitas.

Hal yang paling saya rasakan adalah berkurangnya kenyamanan menikmati momen bersama keluarga.

Biasanya, saya termasuk orang yang paling semangat mengabadikan kebersamaan. Saya senang memotret anak-anak ketika mereka tertawa, mengabadikan pemandangan, atau sekadar berfoto bersama keluarga sebagai kenang-kenangan. Namun kali itu, saya justru lebih sering menyerahkan ponsel kepada suami.

Bukan karena malas, melainkan karena mata terasa kurang nyaman untuk terus fokus melihat layar. Saat menikmati perjalanan menyusuri jalanan Lampung Barat yang dipenuhi pepohonan hijau, saya juga beberapa kali harus mengalihkan pandangan dan memejamkan mata beberapa detik agar rasa perih sedikit berkurang.

Di situlah saya menyadari bahwa gangguan pada mata memang tidak boleh dianggap remeh.

Sepulang menikmati suasana sore bersama keluarga, saya teringat dengan travel pouch yang sudah saya siapkan sebelum berangkat dari Tangerang. Di dalamnya terdapat berbagai perlengkapan kesehatan yang selalu saya bawa saat bepergian, termasuk INSTO DRY EYES.

Insto Dry Eyes dalam Travel Health Kit

Awalnya saya hanya membawanya sebagai langkah antisipasi, sama seperti membawa plester atau obat penurun demam. Saya tidak pernah menyangka bahwa perlengkapan kecil itu justru menjadi salah satu barang yang paling saya butuhkan selama liburan. Saya kemudian membaca petunjuk penggunaannya dan meneteskan #InstoDryEyes sesuai anjuran.

Tidak lama setelah menggunakannya, mata saya terasa lebih lembap dan nyaman. Sensasi sepet dan perih yang sebelumnya cukup mengganggu mulai berkurang sehingga saya bisa kembali menikmati aktivitas bersama keluarga. Bagi saya, perubahan kecil itu terasa sangat berarti karena saya tidak lagi terus-menerus terganggu oleh rasa tidak nyaman pada mata.

Perjalanan kami pun kembali terasa menyenangkan.

Saya bisa menemani anak-anak menjelajahi lingkungan sekitar rumah saudara, menikmati udara pagi yang sejuk, hingga kembali bersemangat mengabadikan berbagai momen sederhana yang kelak akan menjadi kenangan indah. Senyum anak-anak saat bermain, hangatnya obrolan bersama keluarga besar, hingga secangkir kopi hangat khas Lampung Barat terasa jauh lebih nikmat ketika mata kembali nyaman.

tetesin Insto Dry Eyes

Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa kesehatan mata ternyata sama pentingnya dengan mempersiapkan pakaian, bekal, atau obat-obatan sebelum bepergian. Selama ini saya lebih fokus memastikan kebutuhan anak-anak sudah lengkap, tetapi lupa bahwa saya sebagai ibu juga perlu menjaga kondisi tubuh, termasuk kesehatan mata. #MataSePeLeJanganSepelein karena bisa menjadi gejala mata kering. Kondisi ini dapat muncul saat perjalanan jauh, terlalu lama berada di ruangan ber-AC, lebih sering menatap layar gawai untuk navigasi atau memotret, maupun karena aktivitas lain yang membuat mata bekerja lebih keras.

Tidak terasa, waktu liburan tiga hari dua malam di Lampung Barat berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin kami disambut hangat oleh keluarga di Fajar Bulan, kini koper-koper kembali tersusun di dekat pintu, siap di bawa pulang. Anak-anak terlihat masih enggan berpisah. Setelah menikmati sarapan bersama dan mengabadikan beberapa foto perpisahan, tibalah saatnya kami berpamitan. Kami pulang bukan hanya membawa oleh-oleh, melainkan juga rasa syukur atas kesempatan menikmati waktu berkualitas bersama keluarga besar. 

liburan ke Lampung Barat

Rencananya setelah dari Lampung Barat, kami akan mampir dulu di Kota Bandar Lampung, menghabiskan waktu liburan yang masih tersisa. Rute perjalanan pulang pun masih tetap sama, melewati Kotabumi lalu dilanjutkan ke jalan tol Trans Sumatera. Kami sempat singgah kembali di Kotabumi untuk makan siang dan sholat, dan sebelum perjalanan dilanjutkan, saya minta suami mampir sejenak di Indomaret membeli Insto Dry Eyes untuk stok selama perjalanan pulang. Pengalaman beberapa hari terakhir membuat saya tidak ingin mengambil risiko kembali mengalami mata SEpet, PErih, LElah.

Gejala Mata Kering Jangan Disepelein

Meskipun sudah disibukkan dengan rutinitas mengurus rumah tangga sepulang dari liburan di Lampung Barat, tapi saya masih sering membuka kembali galeri foto di ponsel. Ada begitu banyak momen sederhana yang berhasil kami abadikan. Tawa anak-anak saat bermain bersama sepupu mereka, suasana pagi yang diselimuti udara sejuk, obrolan hangat bersama keluarga besar, hingga perjalanan panjang yang justru mempererat kebersamaan kami. Tidak hanya itu, kini saya mulai lebih peduli terhadap kesehatan mata. Pokoknya, gejala mata kering jangan disepelein, tetesin Insto Dry Eyes!

Insto Dry Eyes
Mulai mencari informasi seputar gejala mata kering menjadi salah satu bentuk kepedulian saya terhadap kesehatan mata, karena bisa jadi setelah saya ada anggota keluarga yang yang mengalami. Mungkin suami atau anak-anak. Saya yang sudah mengalaminya bisa mengatakan, kondisi mata kering bukanlah masalah yang bisa dianggap remeh.

TFOS DEWS II (Tear Film & Ocular Surface Society), salah satu rujukan internasional mengenai penyakit mata kering, menjelaskan bahwa Dry Eye Disease merupakan kondisi yang ditandai dengan terganggunya lapisan air mata sehingga menyebabkan berbagai keluhan, seperti rasa tidak nyaman, gangguan pada permukaan mata, hingga penglihatan yang dapat berubah-ubah. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari lingkungan, penggunaan perangkat digital, hingga kebiasaan sehari-hari.

Saat membaca penjelasan tersebut, saya langsung teringat pada perjalanan kami ke Lampung Barat. Selama berjam-jam berada di dalam mobil, saya cukup sering membuka Google Maps, memotret pemandangan, membalas pesan keluarga, dan berada di ruangan ber-AC. Tanpa disadari, aktivitas-aktivitas itu membuat mata bekerja lebih keras dan mungkin juga membuat saya lebih jarang berkedip. Tidak heran jika akhirnya mata mulai terasa sepet, perih, dan lelah.

Beberapa artikel yang membahas kesehatan mata bahkan menyematkan pesan bahwa mata kering jangan disepelein. Mengapa? Terkadang beberapa orang menganggap gejala tersebut hanyalah rasa lelah biasa, padahal tubuh sedang memberi sinyal bahwa salah satu organ vital tersebut sedang membutuhkan perhatian.

Tips Menjaga Kenyamanan Mata Saat Bepergian

Pengalaman selama liburan di Lampung Barat mengajarkan saya bahwa menjaga kenyamanan mata sama pentingnya dengan menyiapkan kebutuhan perjalanan lainnya. Sejak saat itu, ada beberapa kebiasaan sederhana yang selalu saya lakukan setiap kali bepergian bersama keluarga.

1. Mengurangi Kebiasaan Menatap Layar Ponsel Terlalu Lama

Kini, saat melakukan perjalanan jauh, saya berusaha untuk mengurangi kebiasaan terus-menerus melihat layar ponsel, baik untuk scroll media sosial maupun membalas pesan. Bahkan, untuk kegiatan membantu suami navigasi pun mulai saya kurangi. Dari pada terus-menerus melihat menatap layar ponsel, saya lebih memilih menikmati pemandangan di luar jendela atau mengobrol dengan suami serta anak-anak. Selain membuat mata lebih rileks, perjalanan pun terasa lebih menyenangkan. 

2. Mengistirahatkan Mata Secara Berkala

Ketika perjalanan memakan waktu berjam-jam, saya sesekali memejamkan mata beberapa menit atau mengalihkan pandangan ke objek yang jauh. Cara sederhana ini membantu mengurangi rasa lelah pada mata, terutama setelah cukup lama fokus melihat jalan atau layar ponsel.

3. Memenuhi Kebutuhan Cairan Tubuh

Saya juga selalu mengingatkan diri sendiri untuk minum air putih yang cukup selama perjalanan. Selain membantu menjaga kebugaran tubuh, tubuh yang terhidrasi dengan baik juga berperan dalam menjaga kenyamanan mata.

4. Menggunakan Kacamata Saat Beraktivitas Di Luar Ruangan

Jika cuaca cukup terik atau banyak angin, saya memilih menggunakan kacamata hitam. Cara ini membantu melindungi mata dari paparan sinar matahari, debu, dan angin yang dapat membuat mata terasa kurang nyaman.

5. Selalu Membawa Perlengkapan Kesehatan Mata

Sama seperti membawa obat-obatan dasar di dalam travel pouch kesehatan, sekarang saya juga selalu menyiapkan Insto Dry Eyes sebagai salah satu perlengkapan perjalanan. Pengalaman selama liburan di Lampung Barat membuat saya lebih tenang karena memiliki solusi yang dapat membantu meredakan gejala mata kering ketika mata mulai terasa SEpet, PErih, dan LElah. Bagi saya, langkah sederhana ini membantu menjaga kenyamanan mata sehingga saya bisa lebih fokus menikmati setiap momen bersama keluarga.

Pelajaran Berharga dari Sebuah Perjalanan

Tiga hari dua malam di Lampung Barat akhirnya menjadi salah satu perjalanan yang akan selalu kami kenang. Bukan hanya karena udara pegunungan yang menenangkan atau hangatnya kebersamaan dengan keluarga besar di Fajar Bulan, tetapi juga karena perjalanan ini mengajarkan saya untuk lebih peka terhadap hal-hal kecil yang sering kali terabaikan, termasuk kesehatan mata.

tips menjaga kenyamanan mata saat bepergian

Kini, selain menyiapkan pakaian, camilan, dan perlengkapan anak-anak, saya juga selalu memastikan kesehatan mata menjadi bagian dari persiapan perjalanan. Dengan mengenali gejalanya lebih awal, menerapkan kebiasaan yang baik, dan menyiapkan Insto Dry Eyes sebagai teman perjalanan, saya bisa menikmati setiap kebersamaan dengan lebih nyaman dan pastinya #BebasMataKering. Pada akhirnya, perjalanan terbaik bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi tentang hadir sepenuhnya untuk menciptakan kenangan bersama orang-orang tercinta.

Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar

Terima kasih banyak sudah berkunjung dan membaca tulisan saya, semoga menginspirasi. Mohon maaf jika meninggalkan Link Hidup akan saya hapus.